Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Saturday, August 20, 2011

Jika Hari Ini Adalah Hari Terakhirku

Suatu ketika, seorang teman bertanya "Jika kau diberikan sebuah kesempatan bagus untuk memperbaiki semua kualitas hidupmu yang kamu anggap kurang baik, akan kamu ambil atau tidak? " Seketika saya pun berfikir, apakah maksud dari pertanyaan tersebut, apakah ada kesempatan seperti itu? Jika memang benar-benar ada, seolah-olah hidup ini bagaikan ujian SIM atau malah seperti Ujian Semester yang bila kita mendapati hasil ujian kita jelek kita dapat mengulangnya kembali dan berkesempatan memperoleh hasil yang lebih bagus lagi. Saya pikir aya aya wae alias ada-ada saja pertanyaan teman saya tersebut.

Memang sangatlah tidak mungkin waktu untuk kembali dan memberikan keleluasaan bagi kita untuk memperbaiki segala kesalahan yang pernah kita perbuat. Yang dapat terjadi adalah kesempatan, kesempatan dimana waktu terulang bagi kita untuk memperbaiki kesalahan dalam artian kita masih diberi kesempatan untuk menyesali dan mengharap pemaafan dari orang lain apa bila kita pernah menyakiti perasaan orang lain. Dan kesempatan untuk memperbaiki diri dengan cara tidak mengulang kesalahan untuk kesekian kalinya, serta menjadikan pelajaran atas semua kesalahan yang telah kita perbuat dimasa lalu sehingga menjadikan diri kita lebih baik lagi.

Tidak mudah memang, membuka diri kita untuk mengakui kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya. Tapi coba kita fikirkan kembali, jika seandainya hari ini ataupun hari esok adalah waktu terakhir yang Tuhan berikan, apakah kita akan tetap tidak mau memanfaatkan kesempatan itu untuk memperbaiki diri? Terkadang memang ego menutup jalan ke arah sana. Akan tetapi pada kenyataannya setiap diri manusia selalu mencari dan menunggu kesempatan itu tanpa perduli waktu yang diberikan oleh-Nya cukup atau tidak.

Seberapa besar cita-cita kita seberapa besar niat kita, apabila kita tidak mampu memanfaatkan seluruh kesempatan yang hadir, sama halnya kita tidak akan pernah memperbaiki diri menjadi lebih baik. Ungkapan "Keledai tak akan terperosok di lubang yang sama" merupakan gambaran nyata yang bisa kita jadikan acuan bahwa bila kita memiliki kesempatan untuk menjadi seseorang yang lebih berarti, maka kita akan terus berfikir bagaimana caranya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Jadi, Jika hari ini adalah hari terakhir yang Tuhan berikan, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya, dengan menjadikan diri kita lebih berarti bagi orang lain dan lingkungan sekitar karena semua yang terbaik yang pernah kita lakukan tak akan lekang oleh waktu meskipun kita sendiri hanya memiliki hari ini sebagai hari terakhir kita.

Belajar Dari Keterbatasan

Huft...menghela nafas sejenak sebelum menuangkan isi pikiran di blog ini :)Okay mari kita mulai saja dengan beberapa pertanyaan sederhana yang mungkin jawabannya akan sedikit berbelit-belit.

First # Pernahkah kita merasa gagal dan tidak bisa melakukan apa-apa sama sekali?
Saya kira tidak sedikit seseorang yang merasa telah gagal dan tidak ada kemampuan untuk melakukan apa-apa lagi termasuk dalam menerapkan ide-ide yang selama ini telah tersusun. Hal ini juga terjadi pada saya, dimana kemampuan yang dulu saya kira cukup untuk mewujudkan semua impian saya rontok begitu saja tanpa ada yang tersisa sedikitpun.

Second # Pernahkan kita merasa bahwa hidup ini susah?
Jelas, terlihat dari banyaknya orang-orang yang putus asa sampai-sampai melakukan banyak cara untuk mencapai tujuannya tapi tetap merasa bahwa semuanya terasa sulit.

Third # Pernahkan kita merasa bahwa kita tidak memiliki kesabaran dalam segala hal?
Hal ini termasuk dalam satu problematika yang sering kita hadapi. Kemampuan kita untuk menunggu hasil yang kita inginkan terkadang tidak sepadan dengan apa yang kita lakukan.

So, sebenarnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sering timbul disaat kita merasa segala sesuatu yang kita harapkan tidak pernah berpihak kepada kita. Tak terlepas dari kemungkinan atas apa yang kita capai saat ini tidak sepadan dengan apa yang telah kita lakukan. Tapi alangkah ironis sekali apabila konsentrasi pikiran kita hanya tertuang untuk mencari jawaban-jawaban dari semua pertanyaan itu. Kenapa saya bilang ironis? karena sesungguhnya dengan lebih menuangkan pikiran kita untuk meratapi dan mengasihani diri kita sendiri kita telah berupaya untuk menjauhkan diri kita dari kemampuan kita untuk mengeksplorasi segala sesuatu yang jelas masih tersisa untuk dijadikan sebuah semangat baru dalam menjalani segala hal yang saat ini mungkin terasa sangat berat untuk dilakukan.

Dan faktanya inipun terjadi pada saya. Sebagai seseorang yang baru memulai usaha dan mencoba merintis kemandirian yang bermodalkan ide-ide yang selama ini telah disusun. Dan inipun sungguh ironis sekali untuk diri saya sendiri. Kenapa? karena ternyata selama ini saya hanya fokus pada penerapan ide dan tidak pernah mengeksplorasi kemampuan saya untuk mewujudkannya. Menentukan langkah-langkah sederhana, berjalan sedikit demi sedikit dan akhirnya tujuan sebesar apapun yang saya inginkan dapat tercapai. Dan itulah kenyataannya, semua orang pasti mengalami sebuah fase dimana harapan besar terkadang menutup mata kita akan pentingnya sebuah kesabaran dalam proses.

Beberapa hari ini, saya mencoba untuk kembali lagi pada start awal dimana saya menemukan ide, dimana saya memiliki sebuah master plan yang nantinya akan saya kerjakan ulang. Saya mencoba menelurusi dimana letak kesalahan saya dan dimana kekurangannya. Hingga dalam proses ini saya mendapat sebuah inspirasi yang mungkin hal ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang usang di kehidupan kita sehari-hari. Kesabaran - dan kegigihan, itulah yang coba saya cerna lagi. Setelah beberapa bulan saya melakukan pekerjaan saya, ternyata konsep kesabaran dan kegigihan kurang saya terapkan.

Hingga akhirnya Ibu saya pun memberikan sebuah masukan yang sangat berarti sekali. Beliau menceritakan tentang awal mula usaha Beliau hingga saat ini yang jika dilihat perkembangannya sangat luar biasa. Sayapun merasa sangat takjub atas usaha Beliau. Dari pengalaman Beliau saya menyimpulkan bahwa selama ini konsep yang saya lakukan sangat jauh dari sebuah upaya untuk mencapai tujuan. Saya terkesan banyak membuang-buang waktu, tenaga dan tentunya biaya. Ya..mungkin karena saya telah 10 tahun lebih jarang di rumah dalam waktu yang lama, hal inilah yang menyebabkan saya kurang bisa belajar sesuatu yang baik dari Beliau (ngeles dot com :D ) Kesabaran dan kegigihanlah yang Beliau terapkan. Meskipun dengan kemampuan yang terbatas, sumber daya yang terbatas, hingga pengetahuan akan target market yang terbatas pula (usaha Ibu saya adalah dibidang penjualan makanan ringan/cemilan) tidak menyurutkan Beliau untuk melanjutkan usaha yang memang sejak awal sangat Beliau gemari. Thanks Mommy, You are my Inspiration.....

Itu tadi adalah tentang kesabaran dan kegigihan dalam berusaha. Sedangkan untuk menyikapi susahnya hidup ini, saya tertarik atas sebuah kutipan seorang motivator Billy Boen (meskipun beliau dengan terang-terangan tidak mau disebut sebagai seorang motivator). Dalam tulisan beliau yang di posting pada forum terbesar di Indonesia (Kaskus.us), dengan judul "Hidup Itu Susah Part 1", ada petikan obrolan Beliau dengan seorang Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Firmanzah. Dalam salah satu obrolan antara kedua tokoh tersebut, Prof. Dr. Firmanzah mengungkapkan sebuah nasihat untuk Mas Billy Boen, " Kalau orang yang berani ngadepin mati, itu bukan orang hebat. Orang hebat itu adalah orang yang berani ngadepin kehidupan ini. Hidup itu SULIT." Sungguh kalimat yang memiliki makna yang sangat besar, khususnya bagi kita yang saat ini merasa bahwa keputusan untuk melanjutkan hidup adalah sangat berat. Dan kesimpulannya adalah memang hidup ini susah, tapi apakah kita akan lebih memilih untuk tidak melanjutkan hidup dibandingkan kita menghadapi sesuatu yang sangat besar dan akhirnya meraih tujuan kita?

Dari uraian diatas, sangat jelas bahwa problematikan yang ada adalah suatu penciptaan dari diri kita sendiri, suatu rasa takut yang timbul dari dalam diri kita sendiri yang tentunya tak akan pernah kita pecahkan kecuali oleh usaha diri kita sendiri. Terlepas dari semua itu (menguras pikiran untuk mencari jawaban-jawaban), marilah kita coba lihat sekitar kita, kita coba ingat-ingat peristiwa atau pengalaman yang pernah kita alami atau kita baca, kita cerna kehidupan yang terjadi di masa lalu dan saat ini. Apakah kita pernah menemukan seseorang yang memiliki keterbatasan dalam hidupnya (menurut kita), tapi mampu keluar dari masa sulit dan menciptakan kesuksesannya sendiri? Saya kira sering kita menemui pengalaman semacam itu, dari pengalaman seorang OB lulusan SD yang mampu menjadi CEO sebuah Bank Internasional, seorang anak muda yang mampu menyelesaikan studinya hingga luar negeri sampai dia mampu menginspirasi orang lain, seorang wanita yang awalnya hanya berjualan ikan keliling tapi pada akhirnya mampu memiliki pesawat pribadi untuk mengekspor ikan, seseorang tunagrahita yang mampu mempersembahkan medali emas bagi Negara ini dalam kompetisi antar tunagrahita tingkat Internasional, hingga seseorang yang hanya memiliki kemampuan mengajar tapi bisa memberikan yang positif bagi anak-anak jalanan di daerah Bali...Semua itu jika kita lihat, memiliki kesamaan. Semua berawal dari sebuah keterbatasan. Entah itu keterbatasan dari segi knowledge, keterbatasan dari segi finansial ataupun keterbatasan dari segi fisik.

Tuhan memang adil dan pemurah, namun terkadang kita sebagai manusia kurang mengerti akan maksud dan tujuan-Nya. Pikiran kita memang sering kali terkuras untuk meratapi nasib, terfokus hanya pada masalah kekurangan kita, namun jarang yang kita gunakan untuk menciptakan sesuatu yang besar bahkan lebih besar dari sesuatu yang kita kira sebelumnya hanya dengan segala sumber daya yang ada di sekitar kita yang memang secara nyata itu adalah sesuatu yang terbatas...Tapi apakah karena keterbatasa ini, kita tidak mampu menghadapi hidup yang memang "SUSAH" ?

Mari kita kembangkan diri, eksplorasi diri dan manfaatkan seluruh kemampuan kita untuk menyongsong kehidupan yang kita inginkan. Semoga saya pribadi dan Anda semua yang membaca postingan ini, tidak akan pernah lagi merasa bahwa keterbatasan adalah penghalang segalanya....

This post dedicated to my Mother...Thanks Mom, and I Love You...

Monday, March 28, 2011

Setiap Konser, Justin Bieber Dibayar Dengan Ikan Lele (Bila)

Menurut lintasberita.com yang merujuk pada catatan thesmokinggun.com, Justin Bieber diabayar Rp2,7 M (kurs Rp. 9000)
sekali konser. Bayaran yang sangat fantastis untuk ukuran artis yang masih dibawah umur (sungguh beruntung sekali anak muda itu :D ) tapi itulah kenyataannya. Trus maksud dari judul postingan ini apa? hehe....saya cuma mencoba mengira-ngira berapa ratus ton ikan lele yang dibutuhkan untuk membujuk Justin Bieber agar mau konser di tempat saya :D trus kenapa perhitungannya menggunakan ikan lele? nah ini dia yang menjadi pokok ide saya. Secara, saya saat ini sedang merintis usaha pembenihan ikan lele. Akan menjadi sebuah peluang besar bagi usaha pembenihan ikan lele disini (khususnya buat saya sendiri) apabila masyarakat yang membudidayakan (pembesaran) ikan lele suatu saat secara bersama-sama memiliki rencana jangka panjang untuk mengundang Justin Bieber buat menggelar konser disini (semoga...hahaha). Trus kira-kira berapa ratus ton ikan lele yang bisa buat bayar konsernya Justin Bieber? Yuk mari kita berhitung :D kita asumsikan harga ikan lele ukuran 10ekor/kg saat ini oleh pengepul dihargai Rp.9.000/kg. Jadi bisa ketauan jika 1 ton ikan lele = Rp.9 juta. Nah untuk menghitung jumlah tonase ikan lele yang dibutuhkan tinggal kita bagi saja biaya yang harus dibayar dalam sekali konser Justin Bieber dengan jumlah rupiah setiap ton ikan lele. Rp.2,7 milyar : Rp.9 juta/ton = 300 ton. Waw...bakalan mabok lele dah si Justin kalo emang dia mau dibayar pake lele :D

Dengan jumlah ikan lele yang sebegitu banyaknya,trus berapa banyak beniha agar bisa menghasilkan dan mencapai target buat bayar Justi Bieber? haha...mari kita berasumsi lagi (pokoknya postingan ini penuh dengan yang namanya asumsi :D ). Jika 1 kg ikan lele = 10ekor ikan lele, maka 300 ton ikan lele = 3 juta ekor ikan lele. Dengan asumsi (nah lo asumsi lagi kan) SR (survival rate) ikan lele atau tingkat kelulus hidupan ikan lele selama proses budidaya berlangsung mencapai 100 % maka jumlah benih ikan yang dibutuhkan adalah 3 juta ekor benih.....buanyak buanget yak :D trus berapa duit tuh buat beli benih sebanyak itu? asumsi selanjutnya, jika benih yang digunakan adalah benih dengan ukuran 5-7 dengan harga per ekor Rp.150, jadi untuk 3 juta benih bernilai Rp.450 juta. Wohohoho....bisa kebayangkan betapa beruntungnya saya kalo dapet order benih sebanyak itu :D hehe....

Tapi kira-kira Untuk saat ini saya baru bisa melayani pesanan dari lokal.sementara untuk daerah lain bisa konfirmasi terlebih dahuluJustin Bieber mau ga ya konser disini trus bayarannya make ikan lele? ah sudahlah...mungkin peluangnya sangat kecil sekali bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Jangankan dengan ikan lele dibayar make ikan betutu atau sidat yang harganya mahal belum tentu dia mau. Kecuali dibayar dengan uang hasil penjualannya :D

Mari kita lupakan Justin Bieber dan kembali ke realita, akan tetapi tidak terlepas dari berasumsi ria :D Saat ini Kementrian Kelautan dan Perikanan menargetkan konsumsi ikan Nasional diharapkan mampu mencapai 30,47 kg per kapita per tahunnya. Untuk mencapai target tersebut Kementrian Kelautan dan Perikanan mencanangkan program minapolitan guna meningkatkan hasil perikanan. Efek domino dari program ini adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan Nasional akan berdampak pada peningkatan usaha perikanan budidaya dan tentunya secara langsung akan menuntut peningkatan usaha pembenihan ikan. Jika kita ibaratkan Justin Bieber mewakili masyarakat satu Kabupaten yang setiap tahun konsumsi ikannya setara dengan bayaran Justin Bieber sekali konser, maka bisa kita bayangkan berapa ribu ton atau bahkan berapa ratusan ribu ton yang harus dihasilkan dari usaha budidaya ikan dan berapa juta benih yang dibutuhkan guna memenuhi target :) *catatan: di Indonesia kurang lebih ada sekitar 497 kabupaten. Tentunya ini menjadi peluang usaha bagi s iapa saja yang mau terjun didunia perikanan budidaya baik usaha pembesaran maupun usaha pembenihan. Mau? Maju terus perikanan Indonesia !

Thanks to :
- Justin Bieber yang telah menginspirasi :)

NB :
- Untuk para pembaca di kawasan Lampung Timur dan sekitarnya yang membutuhkan benih ikan lele berkualitas bisa menghububgi saya via pesan FB.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews